Kamis, 09 April 2015

Client Centered Therapy

       Unsur – Unsur Terapi (Person – Centered)
1.      Peran Terapis
Menurut Rogers, peran terapis bersifat holistik, berakar pada cara mereka berada dan sikap – sikap mereka, tidak pada teknik – teknik yang di rancang agar klien melakukan sesuatu. Penelitian menunjukkan bahwa sikap – sikap terapislah yang memfasilitasi perubahan pada klien dan bukan pengetahuan, teori, atau teknik – teknik yang mereka miliki. Terapis menggunakan dirinya sendiri sebagai instrument perubahan. Fungsi mereka menciptakan iklim terapeutik yang membantu klien untuk tumbuh. Rogers, juga menulis tentang I-Thou. Terapis menyadari bahasa verbal dan nonverbal klien dan merefleksikannya kembali. Terapis dan klien tidak tahu kemana sesi akan terarah dan sasaran apa yang akan di capai. Terapis percaya bahwa klien akan mengembangkan agenda mengenai apa yang ingin di capainya. Terapis hanya fasilitator dan kesabaran adalah esensial.
2.      Tujuan Terapis
Rogers berpendapat bahwa terapis tidak boleh memaksakan tujuan – tujuan atau nilai – nilai yang di milikinya pada pasien. Fokus dari terapi adalah pasien. Terapi adalah nondirektif, yakni pasien dan bukan terapis memimpin atau mengarahkan jalannya terapi. Terapis memantulkan perasaan – perasaan yang di ungkapkan oleh pasien untuk membantunya berhubungan dengan perasaan – perasaanya yang lebih dalam dan bagian – bagian dari dirinya yang tidak di akui karena tidak diterima oleh masyarakat. Terapis memantulkan kembali atau menguraikan dengan kata – kata pa yang di ungkapkan pasien tanpa memberi penilaian.


    Teknik Terapi
Tidak ada metode atau teknik yang spesifik. Karena Client-Centered Therapy menitikberatkan pada sikap-sikap terapis. Namun ada beberapa teknik dasar yang harus dimiliki terapis yaitu mendengarkan klien secara aktif, merefleksikan perasaan klien, dan kemudian menjelaskannya (Corsini & Wedding, 2011).
Penekanan teknik-teknik dalam pendekatan ini adalah pada kepribadian, keyakinan-keyakinan, dan sikap-sikap terapis, serta hubungannya dengan terapeutik. Dalam kerangka client centered, “teknik-teknik”nya adalah pengungkapan dan pengkomunikasian penerimaan, respek dan pengertian serta berbagi upaya dengan client dalam mengembangkan kerangka acuan internal dengan memikirkan, merasakan dan mengeksplorasi. Periode-periode Perkembangan Terapi Client Centered Hart (1970) membagi perkembangan teori Rogers ke dalam tiga periode yakni :
·         periode 1 (1940-1950) : Psikoterapi nondirektif, dimana menekankan penciptaan iklim permisif dan nondirektif. Penerimaan dan klarifikasi sebagai tekniknya.
·         Periode 2 (1950-1957) : Psikoterapi reflektif. Terapis merefleksikan perasaan-perasaan client dan menghindari ancaman dalam hubungannya dengan dengan client. Client diharapkan mampu mengembangkan keselarasan antara konsep diri dan konsep diri ideal.
·         Periode 3 (1957-1970); Terapi eksperiensial. Tingkah laku yang luas terapis yang mengungkapkan sikap-sikap dsarnya menandai pendekatan ini. Terapis difokuskan pada apa yang sedang dialami client dan pengungkapan oleh terapis. Sejak tiga pulu tahun terakhir, terapi client centered telah bergeser ke arah lebih banyak membawa kepribadian terapis dalam proses terapeutik.

  Konsep utama Client-Centered Therapy
·         Pandangan Tentang Sifat Manusia
Pandangan ini menolak adanya kecenderungan-kecenderungan negative dasar. Sementara beberapa pendekatan beranggapan bahwa manusia menurut kodratnya adalah irasional dan berkecenderungan merusak terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain kecuali jika telah menjalani sosialisasi. Rogers menunjukkan kepercayaan yang mendalam pada manusia. Ia memandang manusia tersosialisasi dan bergerak kemuka, berjuang untuk berfngsi penuh, serta memiliki kebaikan yang positif pada intinya yang terdalam. Pendek kata, manusia dipercayai dan karena pada dasarnya kooperatif dan konstruktif, tidak perlu diadakan pengendalian terhadap dorongan-dorongan agresifnya. Konsep dasar dari client-centered therapy adalah bahwa inidividu memiliki kecenderungan untuk mengakutalisasikan diri (actualizing tendencies) yang berfungsi satu sama lain dalam sebuah organisme.
Para terapis lebih terfokus pada “potensi apa yang dapat dimanfaatkan”. Pendekatan ini difokuskan pada tanggung jawab dan kesanggupan klien untuk menemukan cara-cara menyadari kenyataan secara penuh. Klien, sebagai orang yang paling mengetahui dirinya sendiri, adalah orang yang harus menemukan tingkah laku yang lebih pantas bagi dirinya.
Didalam terapi, terdapat dua kondisi inti: congruence dan unconditional positive regard.Congruence merujuk pada bagaimana terapis dapat mengasimilasikan dan menggiring pengalaman agar klien sadar dan memaknai pengalaman tersebut. Unconditional positive regard adalah bagaimana terapis dapat menerima klien apa adanya, di mana terapis membiarkan dan menerima apa yang klien ucapkan, pikirkan, dan lakukan. Model client-centered menolak konsep yang memandang terapis sebagai otoritas yang mengetahui yang terbaik dan yang memandang klien sebagai manusia pasif yang hanya mengikuti perintah-perintah terapis. Oleh karena itu, terapi client-centered berakar pada kesanggupan klien untuk sadar dan membuat putusan-putusan.
Rogers mengajukan hipotesis bahwa ada sikap-sikap tertentu pada pihak terapis(ketulusan, kehangatan, penerimaan yang nonposesif, dan empati yang akurat) yang membentuk kondisi-kondisi yang diperlukan dan memadai bagi keefektifan terapeutik pada klien. Terapi client-centerd memasukkan konsep bahwa fungsi terapis adalah tampil langsung dan bisa dijangkau oleh klien serta memusatkan perhatian pada pengalaman disini-dan-sekarang yang tercipta melalui hubungan antara klien dan terapis.
Di samping itu , terdapat juga sejumlah konsep dasar dari sisi klien, yakni self-concept, locus of evaluation, dan experiencing Self concept merujuk pada bagaimana klien memandang-memikirkan-menghargai diri sendiri. Locus of evaluation merujuk dari sudut pandang mana klien menilai diri. Orang yang bermasalah akan terlalu menilai diri mereka berdasar persepsi orang lain (eksternal). Experiencing, adalah proses di mana klien mengubah pola pandangnya, dari yang kaku dan terbatas menjadi lebih terbuka.
Ada beberapa konsep-konsep kepribadian yang dikemukakan Rogers, yaitu:
1.      pengalaman, yakni alam subjektif dari individual, di mana hanya indidivu spesifik yang benar-benarmemahami alam subjektif dirinya sendiri;
2.      realitas, yaitu persepsi individual terhadap lingkungan sekitarnya yang subjektif, di mana perubahan terhadap persepsi akan memengaruhi pandangan individu terhadap dirinya;
3.      kecenderungan individu untuk bereaksi sebagai keseluruhan yang beraturan (organized whole), di mana individu cenderung bereaksi terhadap apa yang penting bagi mereka (skala prioritas);
4.      kecenderungan individu untuk melakukan aktualisasi, di mana individu pada dasarnya memiliki kecenderungan untuk menunjukkan potensi diri mereka, bahkan meskipun apa yang mereka lakukan (dan pikirkan) irasional;
5.      kerangka acuan internal yakni bagaimana individu memandang dunia dengan cara unik mereka sendiri;
6.      self atau diriyakni bagaimana individu memandang secara keseluruhan hubungan  aku (I) dan diriku (me),dan bagaimana hubungan keduanya dengan lingkungan; 
7.      simbolisasi, di mana individu menjadi sadar dengan pengalamannya, dan simbolisasi itu seringkali muncul secara konsisten dengan konsep diri;
8.      penyesuaian psikologis, di mana keberadaan congruence antara konsep diri dan persepsi individu akan menjadikan individu dapat melakukan penyesuaian psikologis (dan sebaliknya);
9.      proses penilaian organis, di mana individu membuat penilaian pribadi berdasarkan nilai yang dianutnya; dan
10.  orang yang berfungsi sepenuhnya, di mana orang-orang seperti ini adalah mereka yang mampu merasakan pengalamannya, terbuka terhadap pengalaman, dan tidak takut akan apa yang mereka sedang dan mungkin alami.

Sumber:
Corey, Gerald. (2003) . Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi. Bandung : PT. Refika Aditama Depdiknas (2007).
Ivey, A. E., D'Andrea, M., Ivey, M. B., & Simek-Morgan, L. (2009). Theories of conseling dan psychotherapy. Canada: Pearson Education, Inc.
Semiun, Y. (2010). Kesehatan Mental 3. Yogyakarta: Kanisius

Rabu, 08 April 2015

saya merasa senang kala saya berguna buat orang lain... senang banget 
saya tak peduli apakah niat dia untuk meminta bantuan kepada saya negatif ataupun positif saya tetap senang bukan main.
karna sejatinya saya merasa senang no 1 adalah kala saya dapat melayani sesama mahluk ciptaan tuhan tetapi khususnya manusia ya kalau hewan hm...saya geli sama binatang hehe . maksud saya bukan geli dalam artian negatif loh ya.
we all die, but the goal is not to life forever but to fill your life.
saya ingin ketika saya meninggalkan dunia kelak mereka merasa kehilangan saya, saya ingin saya menjadi mempunyai arti bagi mereka. 
tidak peduli walaupun dia meminta bantuan kepada saya niatnya untuk memanfaatkan saya tidak peduli itu adalah urusan dia dengan tuhan. yang saya tau tugas saya di dunia adalah untuk membantu sesama selagi saya mampu, 
  

Selasa, 07 April 2015

to my sweet peoples

Tuhan aku tidak pernah meragukan sedikitpun satus ke-maha-an engkau Tuhan.
 meet me with sweet peoples that i am feel comfort have fun free laugh and than you take them for while, yes i know for while. ya i know that is one of couples fenomena what do you make. 
for while i assure in my self about that is not forever.
  

Minggu, 05 April 2015

Analisis transaksional

Terapi transaksional adalah suatu terapi kontraktual dan desisional. Klien membuat kontrak yang berisi tujuan-tujuan dan arah proses terapi. Terapi dengan pendekatan analisis transaksional ini dikembangkan oleh Eric Berne dengan berlandaskan dengan suatu teori kepribadian mengenai structural dan transaksional. Terapi ini berfokus pada putusan-putusan yang dibuat klien di awal untuk membuat putusan-putusan baru, dengan menekankan aspek-aspek kognitif-rasional-behavioral dan berorientasi pada peningkatan kesadaran.
Unsur unsur terapi transaksional
a)   Ego State Child
pernyataan ego dengan ciri kepribadian anak anak seperti manja, riang, lincah, dan rewel. ada 3 bagian dari ego state child ini adalah
      Adapted Child
Unsure ini kurang baik ditampilkan saat komunikasi karena banyak orang tidak menyukai dan hal ini menujukkan ketidak matangan dalam sentuhan.
·   Natural child (anak yang alamiah)
Natural child ini banyak disenangi oleh orang lain karena sifatnya yang alamiah dan tidak dibuat-buat serta tidak berpura-pura, dan kebanyakan orang senang pada saat terjadinya transaksi.
·   Little professorUnsur ini ditampilkan oleh seseorang untuk membuat suasana riang gembira dan menyenangkan padahal apapun yang dilakukannya itu tidaklah menunjukkan kebenaran.b)  Ego state parentCiri kepribadian yang diwarnai oleh siafat banyak menasehati, memerintah dan menunjukkan kekuasaannya. Ego state parent ini terbagi dua yaitu:·   Critical parentBagian ini dinilai sebagai bagian kepriadian yang kurang baik, seperti menujukkan sifat judes, cerewet, dll.·   Nurturing parentPenampilan ego state seperti ini baik seperti merawat dan lain sebagianya.c)  Ego state adultBerorientasi kepada fakta dan selalu diwarnai pertanyaan apa, mengapa dan bagaimana.Dengan demikian untuk kita ketahui bahwasanya dalam tiap individu ego state yang tiga diatas selalu ada yang berbeda cuma kadarnya saja. Berapa banyak ego state yang ada dalam individu akan mempengaruhi tingkah laku orang tersebut.

Konsep Dasar

a. Struktur Kepribadian 
   Sumber-sumber dari tingkah laku bagaimana seseorang itu melihat suatu realitas serta bagaimana mereka mengolah berbagai informasi serta bereaksi dengan dunia pada umumnya, dan inilah yang disebut oleh Eric Berne sebagai Ego State (Status Ego). Istilah status ego digunakan untuk menyatakan suatu system perasaan dan kondisi pikiran serta berkaitan dengan pola-pola dan tingkah lakunya. Status ego pada diri seseorang itu terbentuk berdasarkan pengalaman-pengalaman yang diperoleh seseorang yang masih membekas pada dirinya sejak kecil. Menurut Eric Berne behwa status ego seseorang terdiri dari unsur-unsur sebagai berikut:
1) Orang tua (Parent) Bila seseorang merasa dan bertingkah laku seperti orang tua atau tokoh-tokoh terdahulu, maka ia dapatlah berada dalam status ego orang tua. Setiap orang mendapatkan berbagai bentuk pengalaman, sikap, serta pendapat dari orang tuanya, maka dari itu berdasarkan pengalaman, sikap serta pendapatnya yang diperoleh dari orang tuanya masing-masing, setiap orang akan memiliki atau berada pada status ego orang tua. Status ego orang tua itu lebih sering kita lihat dengan nyata, misalnya: membimbing, membantu, mengarahkan, menyayangi, menasihati, mengecam, mengomando, mendikte, dsb. Dapat pula dilihat secara verbal, yaitu: harus, awas, jangan, lebih baik, pokoknya, cepat, dsb. Selain itu dapat pula secara non-verbal, yaitu: merangkul, membelai, menuing, mencium, melotot, dsb. Dapat dikatakan bahwa status ego orang tua dapat berbentuk langsung yaitu dengan menggunakan prototype, model, tipe, dari orang tua yang baik melalui verbal maupun non-verbal. Sedangkan dengan bentuk tidak langsung adalah merupakan petunjuk, aturan, norma, dan nilai-nilai yang pernah didenngar dari orang tua atau tokoh terdahulu pada masa kecil. 
2) Dewasa (Adult) Status ego dewasa adalah bentuk tindakan seseorang yang berdasarkan dasar pikiran yang logis, rasional, objektif, dan bertanggungjawab. Dewasa berfungsi untuk mengumpulkan berbagai informasi, memasukkan berbagai macam data ke dalam bank data, kemudian mempertimbangkan berbagai bentuk kemungkinan yang ada. 
3) Anak (Child) Status ego anak adalah suatu tindakan dari sesorang yang didasarkan pada rekasi emosional yang spontan, reaktif, humor, kreatif, serta inisiatif. Bentuk status ego anak dapat berbentuk wajar apabila terlhat bahwa tingkah lakunya pada masa anak-anak, yaitu: adanya ketergantungan pada orang lain, spontan, bebas, agresif, tidak mau kompromi, impulsive, kreatif, ingin tahu, merasakan berbagai bentuk penemuan baru yang berbentuk status ego yang lain adalah pengaruh tertentu dari orang tuanya. Dengan adanya pengaruh yang begitu melekat, maka menyebabkan anak bertindak dan bertingkah laku sesuai harapa, keinginan, dan cita-cita dari orang tuanya. Di sini akan tampak pola anak yang taat, patuh, sopan, penurut, tetapi ada pula yang menyebabkan anak mengalamai penderitaan, yaitu: overprotection, manja, konflik, stress, frustasi. Jadi status ego anak merupakan kejadian internal pada masa kanak-kanaknya
b.   Stroke
Dalam teorinya, Eric Berne mengemukakan suatu istilah yang disebut stroke, yang dapat diterjemahkan dengan “tanda perhatian”. Menurutnya stroke dapat dibedakan menjadi :
1)        Stroke Positif (Positive stroke)
Stroke positif adalah merupakan segala bentuk perhatian yang secara langsung dapat memperkuat motivasi dan kegairahan dalam kehidupannya yang diperoleh seseorang dalam awal kehidupannya. 
Misalnya : belaian, ciuman, senyuman, tepukan, dll. Bentuk stroke yang lain yaitu seperti piagam atas suatu prestasi, ijazah, dll. Stroke ini dapat menyebabkan seseorang merasa dihargai dan diperhatikan.
2)   Stroke negative (negative stroke)
Stroke negative adalah suatu bentuk stroke yang menunjukkan pandangan yang mengecewakan atau menyesali, pukulan, tamparan yang menyakitkan, kata-kata yang keras, mengkritik, sikap acuh, memelas, dll. 
Sedangkan stroke yang lebih formal adalah, tanda peringatan, surat teguran, nilai merah, dll. Stroke ini menyebabkan seseorang merasa tidak dihargai dan tiak berarti, dan secara langsung memungkinkan seseorang memiliki dan tumbuh sikap yang defensive untuk mempertahankan diri.
3)   Stroke bersyarat (conditional stroke)
Stroke bersyarat dapat diartikan sebagai suatu tanda perhatian yang diperoleh seseorang disebabkan ia telah melakukan sesuatu. Misalnya, “saya mau menemanimu berbelanja, asalkan kau mau membantu membersihkan rumah.”
4)   Stroke tidak bersyarat ( unconditional stroke)
Stroke tak bersyarat atau perhatian tak bersyarat, adalah tanda perhatian yang diperoleh seseorang tanpa dikenakan persyaratan apapun. Misalnya, “ Saya akan membantu anda dengan sebaik-baiknya.”
c.    Struktur Hunger
Eric Berne berpendapat bahwa kebutuhan seseorang untuk mengadakan serangkaian transaksi dengan individu lainnya adalah bersumber pada suatu stimulus atau sensation hunger, dan recognition hunger. Berdasarkan suatu penelitian, Eric Berne berpendapat bahwa  sensation hunger memiliki nilai yang sama dengan food hunger, dan berpengaruh terhadap kelangsungan hidup seseoarang. 
Pada awalanya stimulus hunger ini akan bisa terpenuhi melalui sentuhan, belaian, oleh ibunya pada waktu kecil. Sejak itu individu belajar untuk menerima berbagai bentuk rangsangan lain, misalnya: senyuman, timangan, kata-kata, dll. Dalam hubungan ini terjadilah perubahan bentuk, yaitu dari bentuk stimulus hunger menjadi recognition hunger, dan selanjutnya berkembang kearah pembentukan suatu struktur yang lebih jelas, dan perubahan ini yang di sebut Eric Berne sebagai Struktur Hunger.
Setiap orang ingin mendapatkan kontak, baik fisik maupun psikis dengan orang lain, dan setiap orang ingin menggunakan waktunya dengan sebaik-baiknya sepanjang hidupnya. Dalam analisis transaksional dari Eric Berne mengemukakan 6 cara penggunaan waktu, yaitu:
1)        Withdrawal
Arti kata Withdrawal dapat diartikan penarikan diri. Penarikan diri di sini maksudnya adlah suatu keadaan dimana seseorang sama sekali tidak mau mengadakan konsultasi dengan terbuka dengan orang lain. Orang tersebut menyendiri atu mengisolir diri secara fisik ataupun psikis, misalnya: melamun, berfantasi, dll.
2)        Rituals
Rituals adalah suatu rangkaian transakasi yang diatur secara social dimana sudah ada suatu aturan tertentu dari stimulus dan respon. Ritual ini dilaksanakan tanpa memiliki suatu pesan yang berarti, misalnya: selamat pagi, selamat malam, apa kabar, dll.
3)        Pastimes
Tujuan dari transaksi yang terjadi adalah untuk pengisian waktu luang. Sedangkan objeknya adalah kegiatan yang tidak mengandung bahaya, misalnya: olahraga, mobil, anak, mode, politik. Hal ini sering dilakukan antar orang yang saling mengenal, misalnya dalam bus, pesta. 
4)        Aktivitas
Aktivitas atau juga bisaa disebut dengan “kerja”, yaitu mengerjakan tugas-tugas yang sebelumya telah direncanakan tentang ketentuannya. Hal ini untuk memenuhi tuntutan serta kebutuhan biologis atau psikologis. 
5)        Games
Permainan atau games merupakan suatu rangkaian transaksi yang ruang geraknya menuju kea rah yang jelas dan dapat diramal sebelumnya. Permaianan sering menimbulkan kesulitan dalam kontak social serta menghalangi hubungan yang bersifat interpersonal terbuka, jujur, dan intim.
6)        Intimacy
Merupakan suatu rangkaian transaksi yang cukup sederhana yang menyebabkan terjadinya hubungan interpersonal yang paling dalam. Intimacy akan berlangsung dengan penuh kehangatan, kelembutan, afeksi, dan kasih saying. 
d.   Posisi Psikologis Dasar
Thomas A.Haris, M.D., menyebutkan adanay empat posisi psikologis yang menentukan kehidupan seseorang, di antaranya:
1)        Posisi pertama     : I’m Not OK – You’re OK
Posisi ini menunjukkan behwa pada diri seseorang meraskan bahwa ia lebih rendah dari orang lain. Posisi ini adalah sikap umum yang yang pertama dimiliki oleh anak pada masa awal kanak-kanak. Posisi ini juga terbentuk pada seseorang yang mendapat stroke yang negative.  Dominasi posisi ini disebut Adapted child (anak penurut)
2)        Posisi kedua        : I’m Not OK – You’re Not OK
Keadaan ini lebih parah dan berbahaya dari posisi pertama, da n dipilih sebagai posisi psikologis. Posisi ini disebabkan mereka tidak memiliki gairah hidup. Mereka sudah menganggap ketidakberdayaan, ketidakmampuan yang ada pada dirinya tiadk ada yang bisa menolong.
3)        Posisi ketiga         : I’m OK – You’re Not OK
Posisi hidup ini menunujukkan adanya kecenderungan pada diri seseorag untuk menuntut seseorang, menyalahkan seseorang, mengkambinghitamkan orang lain, menuduh orang lain. Hal ini dapat disebabkan mereka merasa dikecewakan orang lain. Dan di posisi ini dia menganggap diriny alebih baik dari orang lain. 
4)        Posisi keempat    : I’m OK – You’re OK
Posisi ini adalah posisi hidup yang sehat dan menunjukkan adanya suatu keseimbangan pada diri seseorang yang bersifat konstruktif. Posisi ini menunjukkan adanya pengakuan akan orang lain yang memiliki hak yang sama dengan dirinya.
1)        Individu sehat, ditandai dengan tingkah lakunya 
a)      Dapat menggunakan ketiga status ego dengan baik
b)     Posisi dasar hidupnya adalah I am OK, you are OK
c)      Relatif bebas dari script
d)     Tidak ada kebutuhan untuk “games playing”
e)      Memahami dirinya dan orang lain
f)       Bisa menyatakan diri secara bebas
g)      Bisa mencintai dan dicintai
2)        Individu tidak sehat, ditunjukkan dengan tingkah lakunya dengan
a)      Konsep diri negatif
b)     Hubunngan denngan oranng lain negatif

TEKNIK-TEKNIK KONSELING
Teknik konseling yang digunakan adalah: 
1. Permission 
Memperbolehkan klien melakukan apa yang tidak boleh dilakukan oleh orang tuanya 
2. Protection 
Melindungi klien dari ketakutan karena klien disuruh melanggar terhadap peraturan orang tuanya. 
3. Potency
Mendorong klien untuk menjauhkan diri klien dari injuction yang diberikan orang tuanya. 
4. Operation 
a). Interrogation
Mengkonfrontasikan kesenjangan-kesenjangan yang terjadi pada diri klien sehingganya berkembang  respon adult dalam dirinya. 
b). Specification
Mengkhususkan hal-hal yang dibicarakan sehingganya klien paham tentang ego statenya. 
c). Confrontation
Menunjukkan  kesenjangan atau ketidak beresan pada diri klien
d). Explanation
Transaksi adult-adult yang terjadi antara konselor dengan klien untuk menejlaskan mengapa hal ini terjadi (konselor mengajar klien)
e). Illustration
Memberikan contoh pengajaran kepada klien agar ego statenya digunakan  secara tepat.   
f).  Confirmation
Mendorong klien untuk bekerja lebih keras lagi. 
g). Interpretation
Membantu klien menyadari latar belakang dari tingkah lakunya 
h). Crystallization
Menjelaskan kepada klien bahwasanya klien sudah boleh mengikuti games untuk mendapatkan stroke yang diperlukannya

Sumber:

Gerald, Corey. 2005. teori dan paktek konseling dan psikoterapi. Bandung: Rafika Aditama
Taufik. 2009.model model konseling. Padang:Jurusan BK KIP UNP

Logoterapi

Unsur unsur Logoterapi
Selain itu, Frankl juga menggunakan noös yang berarti jiwa/pikiran. Bila psikoanalisis terfokus pada psikodinamik, yakni manusia dianggap berusaha mengatasi dan mengurangi ketegangan psikologis. Namun, Frankl menyatakan seharusnya lebih mementingkan noödinamik, yaitu ketegangan menjadi unsur penting bagi keseimbangan dan kesehatan jiwa. Bagaimana pun, orang menginginkan adanya ketegangan ketika mereka berusaha mencapai tujuan.
Teknik Teknik Logoterapi 
Victor Frankl dikenal sebagai terapis yang memiliki pendekatan klinis yang detail. Diantara teknik-teknik tersebut adalah yang dikenal dengan intensi paradoksal, yang mampu menyelesaikan lingkaran neurotis yang disebabkan kecemasan anti sipatori dan hiper-intensi. Intensi paradoksal adalah keinginan terhadap sesuatu yang ditakuti. Seorang pemuda yang selalu gugup ketika bergaul dengan banyak disuruh Frankl untuk menginginkan kegugupan itu. Contoh lain adalah masalah tidur. Menurut Frankl, kalau anda menderita insomnia, anda seharusnya tidak mencoba berbaring ditempat tidur, memejamkan mata, mengosongkan pikiran dan sebagainya. Anda justru harus berusaha terjaga selama mungkin. Setelah itu baru anda akan merasakan adanya kekuatan yang mendorong anda untuk melangkah ke kasur. 
Teknik terapi Frankl yang kedua adalah de-refleksi. Frankl percaya bahwa sebagian besar persoalan kejiwaan berawal dari perhatian yang terlalu terfokus pada diri sendiri. Dengan mengalihkan perhatian dari diri sendiri dan mengarahkannya pada orang lain, persoalan-persoalan itu akan hilang dengan sendirinya. Misalnya, kalau mengalami masalah seksual, cobalah memuaskan pasangan anda tanpa memperdulikan kepuasan diri anda sendiri. Atau cobalah untuk tidak memuaskan siapa saja, tidak diri anda, tidak juga diri pasangan anda

Konsep Logoterapi
         Pandangan Frankl tentang kesehatan psikologis menekankan pentingnya kemauan akan arti. Tentu saja ini merupakan kerangka, di dalamnya segala sesuatu yang lain diatur. Frankl berpendapat bahwa manusia harus dapat menemukan makna hidupnya sendiri dan kemudian setelah menemukan mencoba untuk memenuhinya. Bagi Frankl setiap kehidupan mempunyai makna, dan kehidupan itu adalah suatu tugas yang harus dijalani. Mencari makna dalam hidup inilah prinsip utama teori Frankl yang dinamakan Logoterapi. Logoterapi memiliki tiga konsep dasar, yakni kebebasan berkeinginan, keinginan akan makna, dan makna hidup.
Kata “logo” berasal dari bahasa Yunani “logos” yang berarti makna atau meaning dan juga “rohani”. Adapun kata “terapi” berasal dari bahasa Inggris therapy yang artinya penggunaan teknik-teknik menyembuhkan dan mengurangi suatu penyakit. Jadi, kata logoterapi artinya penggunaan teknik untuk menyembuhkan dan mengurangi atau meringankan suatu penyakit melalui penemuan makna hidup.
Istilah tema utama logoterapi adalah karakteristik eksistensi manusia, dengan makna hidup sebagai inti teori. Menurut Frankl yang paling dicari dan diinginkan manusia dalam hidupnya adalah makna, yaitu makna yang didapat dari pengalaman hidupnya baik dalam keadaan senang maupun dalam penderitaan.
Konsep keinginan kepada makna (the will to meaning) inilah menjadi motivasi utama kepribadian manusia (Frankl, 1977). Sebutan the will to meaning sengaja dibedakan Frankl dengan sebutan the drive to meaning karena makna dan nilai-nilai hidup tidak mendorong (to push, to drive) tetapi seakan-akan menarik (to pull) dan menawari (to offer) manusia untuk memenuhi kenyataan hidup, yang menurutnya pula tidaklah menyediakan keseimbangan tanpa tegangan, tetapi justru menawarkan suatu tegangan khusus, yaitu tegangan kenyataan diri pada waktu sekarang dan makna- makna yang harus dipenuhi : Bring us Meaning. Di antara kedua hal itulah proses pengembangan pribadi berlangsung.
Konsep kebebasan berkeinginan (freedom of will), mengacu pada kebebasan manusia untuk menentukan sikap (freedom to take a stand) terhadap kondisi-kondisi biologis, psikologi, dan sosio- kultural. Kualitas ini adalah khas insani yang bukan saja merupakan kemampuan untuk mengambil jarak (to detach)  terhadap berbagai kondisi lingkungan, melainkan juga kondisi diri sendiri ( self-detachment ).
Dalam pandangan Logoterapi kebebasan disini adalah kebebasan yang bertanggung jawab agar tidak berkembang menjadi kesewenangan. Adapun konsep makna hidup, yaitu hal-hal yang memberikan arti khusus bagi seseorang yang apabila berhasil dipenuhi, akan menyebabkan kehidupannya dirasakan berarti dan berharga, sehingga akan menimbulkan penghayatan bahagia (happines).
Makna hidup tidak dapat diberikan oleh siapa pun, tetapi harus dicari dan ditemukan sendiri. Orang lain hanya dapat menunjukkan hal-hal yag potensial bermakna, akan tetapi kembali pada orang itu sendiri untuk menentukan apa yang ditanggapinya.
Makna yang kita cari memerlukan tanggung jawab pribadi. Bukan orang lain atau sesuatu yang lain, bukan orang tua, teman, atau bangsa yang dapat memberi kita pengertian tentang arti dan maksud dalam hidup kita. Tanggung jawab kitalah untuk menemukan cara kita sendiri dan tetap bertahan di dalamnya setelah kita temukan. Seperti yang dilakukan oleh Frankl, kita harus menghadapi kondisi-kondisi eksistensi kita secara bertanggung jawab dan bebas menemukan dalam kondisi-kondisi itu suatu maksud. Kehidupan terus menerus menantang kita dan respon kita tidak dapat dilakukan dengan berbicara atau berkontemplasi, melainkan dengan perbuatan-perbuatan, yang mengungkapkan dengan jelas arti yang kita peroleh dalam kehidupan kita.
Kekurangan makna hidup, bagi Frankl, merupakan suatu neourosis; dia menyebut kondisi ini noögenic neurosis. Inilah suatu keadaan yang bercirikan tanpa arti, tanpa maksud, tanpa tujuan dan hampa. Frankl menulis tentang kawan-kawan setahanannya, “celakalah dia yang tidak lagi melihat arti dalam kehidupannya, tidak lagi melihat tujuan, tidak lagi melihat maksud, dan karena hal tersebut ada sesuatu yang turut serta. Dia akan merasa kehilangan”. Karena tidak merasa kehidupan yang penuh dan gairah, maka orang semacam itu berada dalam kekosongan eksistensial , suatu kondisi yang menurut keyakinan Frankl adalah lumrah dalam masa yang sudah modern ini.
Banyak di antara kita menderita noögenic neurosis sebagai akibat dari dua kondisi. Pertama, ketika manusia berkembang dari binatang yang lebih rendah, mereka kehilangan dorongan- dorongan dan insting-insting alamiah yang menghubungkan mereka dengan alam. Karena hal ini telah membebaskan kita dari tekanan-tekanan tertentu, ini berarti bahwa tingkah laku tidak di bimbing oleh insting-insting kita; kita harus secara aktif memilih apa Yang harus kita lakukan Frankl menemukan bukti dari kekosongan eksistensial secara besar-besaran dalam banyak kebudayaan, baik kapasitas maupun komunis, dan dia percaya bahwa kekosongan eksistensial itu berkembang dengan pesat, khususnya di Amerika Serikat. Pemecahan Frankl terhadap noögenic neurosis yang berkembang pesat itu ialah kita masing-masing harus menemukan atau mendapat kembali pengertian yang sangat penting tentang arti dan maksud dalam kehidupan. Jika tidak, kita bisa menderita sakit psikologis
Logoterapi awalnya ialah suatu metode psikoterapi untuk menangani orang-orang yang kehidupannya kehilangan arti. Logoterapi lebih menekankan teknik daripada teori. Akan tetai seperti dikemukakan Frankl, sesuatu yang tidak berdasarkan teori tentang kodrat manusia dan filsafat kehidupan tidak dapat menjadi bentuk psikoterapi (sama seperti ahli-ahli teori lain, kita akan memusatkan perhatian di sini hanya pada teori kepribadian, bukan pada teknik-teknik yang dipakai oleh ahli teori untuk mengubah kepribadian).
Frankl percaya bahwa hakikat dari eksistensi manusia terdiri dari tiga faktor : spiritualitas, kebebasan, dan tanggung jawab.
Spiritualitas adalah suatu konsep yang sulit dirumuskan. Tidap dapat direduksikan. Tidak dapat diterangkan dengan istilah-istilah material. Meskipun spiritualitas dapat dipengaruhi oleh dunia material, namun tidak disebabkan atau dihasilkan oleh dunia material itu. Mungkin yang paling baik kita dapat memikirkannya sebagai roh dan jiwa.
Kita telah mengemukakan pentingnya kebebasan dalam sistem Frankl. Kita tidak didikte oleh faktor-faktor non-spiritual, oleh insting, warisan kita yang khusus, atau kondisi-kondisi dari lingkungan kita. Kita memiliki dan harus menggunakan kebebasan kita untuk memilih bagaimana kita akan bertingkah laku jika kita menjadi sehat secara psikologis.
Akhirnya, tidak cukup merasa bebas unuk memilih tetapi kita harus juga menerima tanggung jawab terhadap pilihan. Logoterapi memperingatkan kita akan tanggung jawab kita dengan cara ini. 

Sumber:
Videbeck, S.H. 2008. Keperawatan Jiwa. Jakarta: Anggota IKAPI
Library.Walisongo.ac.id
Wardalisa.staff.gunadarma.ac.id